Solusi Sosialis Untuk Masalah Israel-Palestina (part 2)
Fundamentalisme – Kenapa Kita Tidak Boleh Mendukung Hamas
Walaupun kita mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Palestina dalam melawan imperialisme dan Zionisme, kita tidak boleh jatuh ke dalam oportunisme mendukung Hamas. Kamerad-kamerad Iran dari kelompok sosialis Militant memaparkan posisi ini dengan sangat baik di dalam statemen solidaritasnya kepada rakyat Gaza (Zionism declares “all-out war” on Gaza):
“Hamas dilahirkan dari kebutuhan yang tidak terelakkan dari rakyat Palestina untuk melawan okupasi Zionis dan penyangkalan hak-hak nasional yang fundamental dan hak asasi manusia setelah Fatah menyerah kepada imperialisme. (Ini juga benar untuk Jihad Islam dan kelompok-kelompok fundamentalis lainnya.)”
“Dari kebutuhan ini, sebuah alternatif lahir. Rakyat Palestina sangatlah membutuhkan seseorang untuk melindungi mereka dari serangan-serangan Israel ketika kaum birokrat dan pejabat-pejabat Fatah dan “Otoritas Palestina” (baca PLO) yang korup sibuk membuat kompromi-kompromi dengan kaum imperialis dan Zionis di Madrid, Oslo, Camp David, Wye River, Sharm al-Sheikh, dan Anapolis.”
“Akan tetapi, gerakan alternatif ini – dan kepemimpinannya – adalah berdasarkan ideologi Islam reaksioner yang selama puluhan tahun telah memainkan peran sebagai pelindung terbaik bagi imperialisme dalam melawan perkembangan gerakan Marxis revolusioner di dalam massa. Ini adalah ideologi yang didanai dan dipromosikan oleh imperialisme Amerika – di bawah pemerintahan Demokrat dari Jimmy Carter – di Afghanistan enam bulan sebelum invasi Soviet! Ini adalah ideologi yang menenggelamkan Revolusi Iran ke lautan darah dan mencegah rakyat pekerja Iran dari perebutan kekuasaan.”
” ‘Gerakan perlawanan Islam’ terhadap invasi Stalinis yang didanai oleh CIA dan Saudi dan ‘rejim Islam revolusioner’ di Iran adalah basis-basis penting bagi perkembangan dan penyebaran fundamentalisme (di dalam berbagai bentuk) ke seluruh dunia dari Filipin ke Indonesia ke Algeria ke Moroko. Mengikuti jatuhnya Uni Soviet dan pengdiskreditan semua bentuk sosialisme dan komunisme, ideologi fundamentalisme ini benar-benar leluasa dalam menyebarkan racunnya yang manis tersebut. Dan tidak ada yang lebih kehausan daripada rakyat Muslim yang paling tertindas – yakni rakyat Palestina dan kaum Shia di Lebanon.”
“Efek-efek jangka panjang dari ideologi ini bagi rakyat Palestina akan sangat menghancurkan. Kepemimpinan Hamas menjual strategi nasionalis bangkrut yang sama dengan strategi Fatah, tetapi dengan topeng Islam yang baru. Strategi ini tidak akan membebaskan rakyat Palestina, dan bukan hanya itu, strategi ini akan jatuh ke kesalahan-kesalahan yang sama dan membuat kompromi-kompromi yang sama dengan musuhnya. Dan metode-metode yang digunakan oleh Hamas dan kelompok-kelompok Islam lainnya untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan fundamentalis yang bangkrut adalah lebih menghancurkan dan akan lebih gagal dibandingkan dengan yang digunakan oleh Fatah (dan kelompok-kelompok PLO lainnya) di tahun 1970an.”
“Sangatlah penting bagi semua orang yang telah berdemonstrasi menentang kekejaman-kekejaman pasukan Israel di Gaza baru-baru ini – di seluruh dunia, di seluruh Asia dan Timur Tengah (termasuk Israel), Eropa, dan Amerika Utara dan Selatan – bahwa walaupun kita mendukung sepenuhnya hak-hak rakyat Palestina dan perlawanan mereka menentang imperialisme dan Zionisme, kita tidak mendukung kepemimpinan Hamas dalam bentuk apapun. Kita harus menarik garis perbedaan antara rakyat Palestina dan kepemimpinan Hamas yang telah terdorong oleh radikalisme rakyat – dan untuk sementara menungganginya.”
Kita harus menarik garis kelas di dalam perjuangan pembebasan nasional Palestina, dan bukannya mencari-cari kelas feodalis (yang merupakan basis dari Hamas, dan juga dari Hezbollah) yang progresif. Satu-satunya kekuatan yang bisa dipercaya oleh rakyat pekerja Palestina adalah kekuatan diri mereka sendiri. Kita tidak bisa memisahkan lagi perjuangan pembebasan nasional Palestina dari perjuangan sosialis di seluruh daerah Timur Tengah. Ini bukanlah berarti melompati atau mengabaikan tahapan pembebasan nasional dan langsung menuju sosialisme. Ini bukanlah menggabungkan secara mekanik tuntutan pembebasan nasional dan sosialisme. Ini adalah dialektika dari perkembangan gerakan pembebasan di Palestina.
Kelas mana yang mampu memimpin perjuangan pembebasan nasional Palestina? Kelas feodalis sudah terbukti kebangkrutannya, dan tidak ada nilai-nilai progresif sama sekali. Kelas borjuis nasional dan borjuis kecil Palestina terikat oleh feodalisme dengan seribu benang; mereka tidak pernah berkembang secara mandiri dan utuh, dan oleh karena itu tidak mampu memimpin perjuangan ini. Kegagalan Fatah dan PLO sudah menjadi saksi dari kebangkrutan kaum borjuis dan borjuis kecil Palestina. Yang tersisa adalah kelas pekerja Palestina, satu-satunya kelas yang mampu memimpin seluruh rakyat tertindas Palestina (termasuk juga kaum borjuis kecil urban dan rural Palestina) ke pembebasan nasional yang sesungguhnya. Kelas buruh Palestina yang memulai gerakan pembebasan nasional tidak akan bisa berhenti disana dan akan terdorong untuk melaksanakan tugas-tugas sosialis juga.
Kita bisa bayangkan bagaimana ini akan terjadi. Rakyat pekerja Palestina, setelah meraih kekuasaan politik, pertama-tama akan menjamin kebebasan demokrasi serikat buruh, hak-hak wanita, dll, yang sering kali bertentangan dengan kepentingan kaum feodal juga adalah kaum borjuis atau borjuis kecil di Palestina. Perebutan kekuasan politik ini tidak akan diterima dengan baik oleh kaum feodal-borjuis tersebut karena ini akan mengancam prestige mereka, dan tidak diragukan mereka akan mengadakan perlawanan. Kaum feodal-borjuis ini tidak pernah bermaksud membebaskan rakyat Palestina dari cengkraman kapitalis, mereka lebih tertarik untuk mendapatkan kue bagian dari penindasan rakyat Palestina. Untuk mematahkan perlawanan kaum feodal-borjuis Palestina, yang mengendalikan ekonomi di West Bank dan Gaza (tanah pertanian, pabrik-pabrik, dll), maka kendali-kendali ekonomi akan diambil alih oleh pemerintahan pekerja Palestina, dan juga digunakan untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina. Selain itu, penyeludupan barang-barang kebutuhan dari Israel dan Mesis (karena blokade) yang dikontrol oleh para pemimpin-pemimpin Hamas dan Fatah untuk memperkaya diri mereka sendiri akan juga diambil alih oleh pemerintahan pekerja tersebut untuk melayani kebutuhan rakyat. Pasukan-pasukan preman Hamas yang reaksioner, yang aktif meneror serikat-serikat buruh di Palestina, akan dibubarkan dan digantikan dengan milisi rakyat yang demokratis.
Selain itu, kepemimpinan buruh di dalam perjuangan Palestina akan mengubah taktik mereka dari terorisme individual menjadi aksi massa, dan menyerukan kepada kaum buruh Israel, “Kami tidak akan mengirim roket-roket dan bom ke wilayah tempat tinggal rakyat pekerja Israel. Kami hanya ingin melawan imperialisme Israel. Bantulah kami dengan menumbangkan pemerintahan imperialismu!”. Seruan ini akan langsung mengubah situasi politik di Israel. Pijakan kaki kaum penguasa Israel akan goyah karena kabut nasionalisme sempit yang mereka tebarkan akan menghilang dan muka buruk mereka akan terlihat. Imperialisme Israel akan terkuak sebagai kebijakan kapitalisme dan bukan lagi tersamarkan sebagai kebijakan “pertahanan diri untuk rakyat Israel”. Dengan terbebaskan dari kabut nasionalisme sempit, perjuangan kelas di Israel akan menjadi semakin tajam dan menentang kapitalisme secara langsung.
Fakta bahwa satu-satunya sekutu yang bisa diandalkan oleh rakyat pekerja Palestina adalah rakyat pekerja Israel juga semakin menguatkan gagasan bahwa kita tidak bisa mengandalkan kaum feodalis fundamentalis yang ingin “menghapuskan Israel dari peta dunia”. Bekerja sama dengan kaum feodalis berarti menyangkal masalah kebangsaan rakyat Yahudi. Kita harus menyadari bahwa kaum Yahudi sendiri masih memiliki masalah kebangsaan (National Question) yang belum terselesaikan, yang justru semakin akut. Pembentukan negara Israel pada tahun 1948, yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah kebangsaan Israel, justru semakin membuat masalah tersebut menjadi parah karena bertentangan dengan hak-hak kebangsaan rakyat Palestina.
Pembentukan negara Israel adalah sebuah usaha penyelesaian masalah nasional (pembebasan nasional) kaum Yahudi, tetapi karena perjuangan ini dilakukan di bawah kapitalisme yang mau tidak mau bersifat eksploitatif, maka penyelesaiannya dilakukan dengan menginjak-injak hak kebangsaan rakyat Palestina. Bila kaum Yahudi saja tidak bisa menyelesaikan masalah kebangsaan mereka sendiri (yang merupakan bagian penting dari perjuangan pembebasan nasional) di bawah kapitalisme, maka apa yang menjadikan alasan untuk berharap bahwa kita bisa menyelesaikan masalah kebangsaan Palestina di bawah kapitalisme juga? Adalah mustahil untuk menyelesaikan masalah kebangsaan Palestina dengan mengandalkan kerjasama dengan kaum feodalis dan kaum borjuis nasional ‘progresif’, karena kerjasama dengan mereka mensyaratkan status quo sistem kapitalisme.
bagaimana mungkin bisa mengatakan bahwa ideologi islam adalah ideologi yang melindungi imperialisme…sungguh tdak masuk akal…! apakah menurut anda ideologi sosialis komunis adalah yang terbaik…
bagaimana bisa dikatakan demi kian..toh sejarah membuktikan soviet dan negara2 lainnya justru hancur dengan ideologi ini…di indonesia juga dmikian..
ada 3 hal, yang perlu diketahui jika ingin mengambil sebuah ideologi memuaskan akal, sesuai fitrah manusia, dan menenangkan hati. adakah sosialis demikian???
anda juga banyak mgatakan revolusi,,dan anda hnya revolusi berdarah…apa cuma itu yang bisa sosialis lakukan revolusi, revolusi sampai mati?
ISLAM dgn ideologinya prnah berjaya di 2/3 dunia selama 14 abad, dgn kmakmuran dan sumbngsih bagi dunia, yang tak pernah diberikan oleh ideologi lainnya. berapa tahun soviet dan sosialisnya bertahan? plajari lagi apa itu ISLAM??? gnkan pemikiran anda yang cemrlang…
knapa mhasiswa hnya trbelnggu oleh sosialis dan kapitalis, sedangkan ISLAM yg sejatinya dr pencipta enggan untuk diperjuangkan.. rbah arah perjuangan mu kawan..selama ada kesmpatan…kapitalisme sdang diambang khancuran, sosialisme tlah terbukti ggal memmpin dunia, sekarang tggal ISLAM…the only solution for the world..
knali ISLAM IDEOLOGIS, kwn…kau akan menemukan revolusi sjati…
Pencipta mana yang anda maksudkan?
JELAS pencipta manusia beserta alam semesta, termasuk anda.
pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk anda!
saya tau, kalo memang anda berpegang pada ajaran karl marx, frederich engels, dan darwin. maka saya yakin anda tdak mempercayai adanya tuhan, atau pencipta alam semesta karena memang cara pandang Sosialisme materialisme adalah dialektika materialisme, and materialisme historis, yang memandang alam terjadi dengan sendirinya…tapi apakah anda sudah berpikir dengan cemerlang mengenai hal ini? berpikir cemerlang, bukan yang dangkal! apakah anda yakin alam tidak diciptakan oleh tuhan, tapi terjadi dengan sendirinya?
oya, saya harap dialog kta ini jadi jalan untuk menemukan kebenaran…
tunjukkan bahwa memang ada pencipta yang tak diciptakan
sebelum saya menjawabnya, saya ingin bertanya, jadi anda semua benar2 tidak meyakini adanya pencipta dibalik alam, manusia dan kehidupan ini?
tidak