GMNI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Say No to Caleg! No to Partai!

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Februari 23, 2009

Sejak melihat maraknya atribut kampanye yang dipasang di segala penjuru kota dengan tidak memperdulikan ketertiban kota dan keindahan kota, saya kira pantaslah kalau kita kecewa dengan para caleg beserta partai-partai yang sedang berkampanye itu. Lihatlah bagaimana jalan-jalan kota dipenuhi dengan spanduk, pamflet dan banner besar-besar dan bertebaran dimana-mana, sehingga tak dapat lagi kita menikmati perjalanan motor dengan nyaman karena pandangan kita akan terserobok oleh gambar-gambar wajah yang tak dikenal. Tak dapat pula kita mendapati pemandangan yang menentramkan hati pada area publik di tengah kota karena hampir semua pohon dan tiang tercemar oleh kertas-kertas berwarna warni dengan foto sok bijak para caleg itu.

Apakah mereka pantas untuk dipilih ketika mereka dengan jelas-jelas tidak peduli pada kotanya sendiri? pada kenyamanan dan kesejahteraan yang sederhana bagi warganya? Saya rasa TIDAK!!!

Say NO to Caleg! No to Partai!
Bagi mereka yang tak peduli dengan tata tertib kota, Silahkan mencari uang dengan jalan lain saja.. Jangan kira kami akan mencontreng nama kalian dan jangan harap kami mau membayar pajak demi gaji kalian!!

sebuah artikel dari….

Partai Pemilu 2009

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Februari 13, 2009
  1. Partai Hati Nurani Rakyat

  2. Partai Karya Peduli Bangsa

  3. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia

  4. Partai Peduli Rakyat Nasional

  5. Partai Gerakan Indonesia Raya

  6. Partai Barisan Nasional

  7. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia

  8. Partai Keadilan Sejahtera

  9. Partai Amanat Nasional

  10. Partai Perjuangan Indonesia Baru

  11. Partai-partai lainnya

Marhaenis Bergerak !; Antara Penguatan Akar Rumput dan Strategi Politiknya di Era Neoliberalisme

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Februari 12, 2009

oleh: Budiman Sudjatmiko

‘Di sini, di antara buruh dan tani, kami generasi yang kalah menemukan kebenaran dan kekuatannya kembali. Inilah satu-satunya rumah kami…’ —Emmanuel F. Lacaba—

Pengantar

Indonesia sekarang merupakan satu masyarakat kapitalis yang bersifat setengah jajahan. Bilur-bilur luka sisa feodalisme pun masih di sekujur tubuhnya. Kapitalisme neoliberal telah menderas, terutama di era akhir kekuasaan Orde Baru. Ia lantas dilanjut dengan revolusi damai di era demokrasi liberal sekarang. Ada proses up and down dalam arus putaran sistem perekonomian di setiap kurunnya. Tiap-tiap terjadi penurunan, senantiasa disertai kebangkitan. Asia mengalami kebangkitan ekonomi kembali setelah diringkus oleh krisis pada tahun 1997. Meski bersifat parsial, tanda-tanda pemulihan menyeruak kembali. Sepanjang ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh dan menyerap ekspor, ekonomi Asia berpeluang untuk mengekspor ‘surplus’ komoditi yang tak terbeli oleh rakyat sendiri. Proses yang sangat ditolong oleh devaluasi mata uang inilah yang membuat ekspor mereka lebih murah ketimbang sebelumnya. Kapitalisme sudah merupakan motor perubahan sejarah yang ‘revolusioner’ dalam hamparan global.

Perubahan ini sekarang ditunjukkan oleh fenomena globalisasi. Bahkan seorang ahli Sosiologi Hubungan Internasional dari Inggris, Martin Shaw, menunjuk proses ini sebagi revolusi global. Ini adalah satu perubahan yang melibatkan bukan sekedar proses di bidang ekspansi-ekspansi hubungan pasar, komodifikasi di sembarang tempat dan komunikasi yang merangkum seantero dunia, melainkan juga memadu dengan tranformasi di bidang kultural dan transisi perimbangan kekuatan politik-militer internasional (Shaw, Martin, 2000,:’Theory of the Global State: Globality as an Unfinished Revolution’).

Dihadapkan pada semua itu, bakal tunggang-langgangkah kaum Marhaenis dalam menyongsongnya? Atau, apa yang bisa dilakukan? Batu-batu karang macam apa yang akan menghadang Gerakan Marhaenis?

Inilah batu-batu karang yang mesti ditaklukan itu

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.