GMNI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Debates continue to disappoint observers

Ditulis dalam pergerakan mahasiswa oleh gmnium pada Juli 2, 2009

The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 07/01/2009 9:56 AM

The fourth session of the presidential/vice presidential debates might not have a clear winner as observers are divided on who performed better. The following are the assessments of observers who followed the broadcast of the event.

Aleksius Jemadu, acting dean of Social and Political Sciences Faculty of the Pelita Harapan University in Karawaci, Banten, believes Prabowo clearly won Tuesday’s debate.

“Learning from his shortcomings in the first debate, Prabowo came up with a clear logic in presenting his vision and mission in improving the quality of life for Indonesians.

“He wants to convince his audience that the solutions to many of our problems are around us.”

Aleksius graded Prabowo a near perfect of 4.9 out of 5. Boediono and Wiranto tied at 3.5.

Boediono started with a simple story about a fisherman he met during his campaign trip.

Unfortunately

Pemilu 2009 = GAGAL???

Ditulis dalam pergerakan mahasiswa oleh gmnium pada April 6, 2009

pemilu Aq gak tau menahu soal statistik terbaru, penilaianqu ini semata dari observasi di sekitarqu

Bayangkan, dari pihak KPU pun seakan memang tidak atau belum mempersiapkan ini dengan benar, masa dengan enaknya bilang baru bisa menjamin bahwa usrat suara semuanya selesai dan komplit pada H-1?? Yang bener aja, ini kan acara nasional, masa perencanaannya gak mateng sama sekali.. Kisruh kesalahan cetak maupun kesalahan yang lain yang terdapat pada surat suara yang telah disebarkan ke banyak wilayah bukanlah hanya menjadi suatu kesalahan teknis, tapi lebih kepada ketidaksiapan KPU untuk menyelenggarakan PEMILU kali ini. Bayangkan, masa kampanye yang begitu panjang, malah banyak mereka gunakan untuk jalan2 ke luar negeri dengan dalih studi banding… bukannya menyiapkan segala sesuatu dengan perencanaan yang matang.

Soal Surat Suara bukanlah satu2nya kendala besar dalam hal ini, ketidakpastian DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang terjadi di banyak daerah kupikir bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Ketidakvalidan KPU dalam menyusun data pemilih sehingga banyak terjadi pemilih ganda ataupun pemilih fiktif. Masa di suatu daerah, nama beberapa narapidana terhukum mati nasional masih saja tercantum sebagai pemilih?? Yang bener aja!!!

Soal persiapan yang gak terkoordinasi dengan baik, bukan hanya menhadi masalah satu2nya. Kukira sistem Pemilu kali ini sangat membingungkan dan menguras biaya. Membingungkan dalam hal sistem yang aneh, ketika qta harus memilih satu diantara 10 caleg dari 44 partai. Artinya, qta harus mengetahui dan mengerti visi misi dari 10 x 44 = 440 caleg.. Bisakah? Tentu saja qta tak bisa semena2 memilih suatu caleg hanya karena qta melihat posternya (klo yang bikin poster), atau yang datang ke kampung qta dengan mengadakan pengasapan DBD.. Tapi sebagai pemilih, qta SANGAT BERHAK mengetahui SEMUA caleg yang ada. Sebelum KPU (atau entah lembaga mana yang bikin sistem BODOH semacam ini) mengesahkan sistem ini, apakah mereka yakin mampu untuk memberikan HAK kami?? Bahwa Pemilu bukanlah ajang “tebar pesona” lewat poster, pamflet dan banner besar2.. melainkan sebuah sistem fair yang memberikan informasi yang lengkap dan cukup mengenai SETIAP CALEG?

Soal 440 Caleg itu pun masih mengenai caleg DPRD, gimana dengan DPD dan DPR? Berapa banyak yang harus kami hapal dan benar2 teliti menyeleksi dan memilah caleg yang benar? ]

Dan perpindahan dari COBLOS menjadi CONTRENG, jelas adalah sebuah perubahan besar2an bagi INDONESIA.. yang tak bis dirubah secepat itu, tapi KPU (lagi2), gagal mengakomodasi itu. Masih banyak daerah yang (sesuai yang kulihat di TV), kebingungan dengan sistem baru ini. Walopun kemudian, dengan mencoblos itupun masih dianggap sah, tapi tetap saja masalah ini tak bisa dianggap remeh. Ketidaksiapan panitia, dalam hal ini KPU, dalam menyampaikan informasikan dana mengconduct suatu acara, bisa memastikan bahwa acara itu akan berjalan dengan amburadul atau malah GAGAL

Ini masih soal membingungkan, belum lagi soal penggelontoran dana besar2an di saat PEMILU ini, yang aq yakin akan makin membuat bangsa ini terpuruk. Karena siapa lagi yang akan membayar hutang para Celeg dan Capres ketika mereka menggalang modal Pemilu klo bukannya rakyatnya sendiri, dengan nama lain.. qta.. setiap penghuni Indonesia Raya ini.

Setiap Caleg saja bisa menghabiskan rumah dan ratusan juta, bagaimana dengan capres? Trilyunan… Dan mereka tentunya tak ingin rugi. Prinsip berdagang adalah harus balik modal, dan klo bisa untung gedhe2an. Tahu sendiri kan berapa sih gaji anggota legislatif ataupun Presiden? Aq yakin dalam waktu lima tahun, modal mereka gak akan kembali. Dan modal itu baru bisa kembali, untung malah, bila mereka membuat proyek yang bisa menggelembungan perut dan rumah mereka dengan ATAS NAMA BANGSA, ATAS NAMA RAKYAT. Yang entah itu artinya menjual aset2 qta ke luar negeri lagi, atau mengimpor beras dan membuat petani terpuruk, atau sistem buruh yang lebih menekik leher mereka dengan kenaikan harga dan penurunan apresiasi kerja. We’ll see

Pemilu ini pun kemungkinan besar akan gagal, mengingat dari awal, penyalahgunaan kekuasaan untuk melakukan kampanye dan juga penyelewengan peraturan Pemilu masih saja tidak digubris. Keberadaan Panwaslu hanyalah semacam simbol bisu untuk pengawasan yang angot2an.

Kukira, siapapun yang akan menang pada Pemilu kali ini.. qta, sebagai warga negara, akan tetap kalah. Aakan tetap diinjak oleh birokrasi dan kekuasaan. Jadi, untuk apa berpartisispasi?

Parodi Partai ha3x

Ditulis dalam pergerakan mahasiswa oleh gmnium pada Maret 6, 2009

Say No to Caleg! No to Partai!

Ditulis dalam pergerakan mahasiswa oleh gmnium pada Februari 23, 2009

Sejak melihat maraknya atribut kampanye yang dipasang di segala penjuru kota dengan tidak memperdulikan ketertiban kota dan keindahan kota, saya kira pantaslah kalau kita kecewa dengan para caleg beserta partai-partai yang sedang berkampanye itu. Lihatlah bagaimana jalan-jalan kota dipenuhi dengan spanduk, pamflet dan banner besar-besar dan bertebaran dimana-mana, sehingga tak dapat lagi kita menikmati perjalanan motor dengan nyaman karena pandangan kita akan terserobok oleh gambar-gambar wajah yang tak dikenal. Tak dapat pula kita mendapati pemandangan yang menentramkan hati pada area publik di tengah kota karena hampir semua pohon dan tiang tercemar oleh kertas-kertas berwarna warni dengan foto sok bijak para caleg itu.

Apakah mereka pantas untuk dipilih ketika mereka dengan jelas-jelas tidak peduli pada kotanya sendiri? pada kenyamanan dan kesejahteraan yang sederhana bagi warganya? Saya rasa TIDAK!!!

Say NO to Caleg! No to Partai!
Bagi mereka yang tak peduli dengan tata tertib kota, Silahkan mencari uang dengan jalan lain saja.. Jangan kira kami akan mencontreng nama kalian dan jangan harap kami mau membayar pajak demi gaji kalian!!

sebuah artikel dari….

Partai Pemilu 2009

Ditulis dalam pergerakan mahasiswa oleh gmnium pada Februari 13, 2009
  1. Partai Hati Nurani Rakyat

  2. Partai Karya Peduli Bangsa

  3. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia

  4. Partai Peduli Rakyat Nasional

  5. Partai Gerakan Indonesia Raya

  6. Partai Barisan Nasional

  7. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia

  8. Partai Keadilan Sejahtera

  9. Partai Amanat Nasional

  10. Partai Perjuangan Indonesia Baru

  11. Partai-partai lainnya