Marhaenis Bergerak !; Antara Penguatan Akar Rumput dan Strategi Politiknya di Era Neoliberalisme
oleh: Budiman Sudjatmiko
‘Di sini, di antara buruh dan tani, kami generasi yang kalah menemukan kebenaran dan kekuatannya kembali. Inilah satu-satunya rumah kami…’ —Emmanuel F. Lacaba—
Pengantar
Indonesia sekarang merupakan satu masyarakat kapitalis yang bersifat setengah jajahan. Bilur-bilur luka sisa feodalisme pun masih di sekujur tubuhnya. Kapitalisme neoliberal telah menderas, terutama di era akhir kekuasaan Orde Baru. Ia lantas dilanjut dengan revolusi damai di era demokrasi liberal sekarang. Ada proses up and down dalam arus putaran sistem perekonomian di setiap kurunnya. Tiap-tiap terjadi penurunan, senantiasa disertai kebangkitan. Asia mengalami kebangkitan ekonomi kembali setelah diringkus oleh krisis pada tahun 1997. Meski bersifat parsial, tanda-tanda pemulihan menyeruak kembali. Sepanjang ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh dan menyerap ekspor, ekonomi Asia berpeluang untuk mengekspor ‘surplus’ komoditi yang tak terbeli oleh rakyat sendiri. Proses yang sangat ditolong oleh devaluasi mata uang inilah yang membuat ekspor mereka lebih murah ketimbang sebelumnya. Kapitalisme sudah merupakan motor perubahan sejarah yang ‘revolusioner’ dalam hamparan global.
Perubahan ini sekarang ditunjukkan oleh fenomena globalisasi. Bahkan seorang ahli Sosiologi Hubungan Internasional dari Inggris, Martin Shaw, menunjuk proses ini sebagi revolusi global. Ini adalah satu perubahan yang melibatkan bukan sekedar proses di bidang ekspansi-ekspansi hubungan pasar, komodifikasi di sembarang tempat dan komunikasi yang merangkum seantero dunia, melainkan juga memadu dengan tranformasi di bidang kultural dan transisi perimbangan kekuatan politik-militer internasional (Shaw, Martin, 2000,:’Theory of the Global State: Globality as an Unfinished Revolution’).
Dihadapkan pada semua itu, bakal tunggang-langgangkah kaum Marhaenis dalam menyongsongnya? Atau, apa yang bisa dilakukan? Batu-batu karang macam apa yang akan menghadang Gerakan Marhaenis?
GMNI, Kegagalan Merumuskan Ideologi
Oleh: Ichwan Ar
Berbicara mengenai Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), diskursus yang muncul tentang heroisme semu, konflik organisasi, kegelisahan dan fragmen mimpi politik dari kelompok yang merepresentasikan diri sebagai nasionalis muda. Ironisnya, napas yang sama masih mengemuka pada saat organisasi mahasiswa ini genap berusia 48 tahun pada 23 Maret ini. Persoalan yang muncul masih berkutat pada konflik organisasi dan keterpenjaraan dalam romantisme sejarah.
Konflik semakin mengental dalam bentuk perpecahan. Pada tingkat presidium, kepengurusan terbelah antara presidium versi Kongres Kupang 1999 dan Kongres Luar Biasa di Semarang 2000.
Pada tingkat implementasi gerakan, yang lebih banyak mengemuka adalah model aksi di jalanan. Sebuah pilihan yang lebih banyak didasari pada euforia politik pascareformasi, mengikuti tren hiruk pikuk aksi mahasiswa dan terlihat sekadar mengisi kebutuhan aktivitas organisasi.
Dengan demikian, tidak mengherankan jika yang kemudian muncul adalah tipologi gerakan politik semu, miskin gagasan dan terjebak pada karakter aktifisme belaka.
Keterpenjaraan dalam romantisme masa lalu mengental dalam pola kaderisasi dan struktur gerakan yang tidak bergeser dari simbol-simbol kebesaran di masa silam. Hal itu terlihat dari model rekrutmen dan pendidikan kader yang lebih mempertimbangkan kuantitas daripada kualitas.
Tidak aneh, jika kemudian para kader lebih mengedepankan hal-hal yang berbau seremonial dan pilihan aktivitas yang menawarkan “gebyar” serta ilusi tentang gerakan politik mahasiswa. Hal-hal yang menyangkut ruang pergulatan pemikiran nyaris tidak tersentuh. Pada akhirnya, produk yang dihasilkan adalah kader-kader karbitan yang lemah secara intelektual, miskin pemahaman ideologi dan cenderung bersikap komprador pada penguasa.
Refleksi Total
Meski demikian, terasa lebih memprihatinkan melihat situasi itu tidak juga diimbangi dengan kemunculan kesadaran politik dari para aktivisnya untuk merefleksi problem mendasar yang diidap organisasi.
Hal lainnya adalah kesiapan menerima kritik. Jika kesiapan itu tidak ada, refleksi tersebut justru berpotensi menumbuhkan konflik baru bagi kelompok yang tidak sepaham. Pilihan itu juga cenderung tidak populer serta jauh dari ilusi kekuasaan politik. Dengan demikian, refleksi menjadi pilihan yang tidak menarik.
Edisi Video Bung Karno
Iseng-iseng liat Youtube dan coba melihat beberapa video menarik tentang pidato2 Bung Karno
1. Proklamasi
2. Bung Karno bicara Supersemar
3. Soekarno: Pembebasan Irian Barat
SEPINTAS TENTANG RELITAS KEGIATAN PKPT (PENGENALAN KEGIATAN PERGURUAN TINGGI)
Minggu ini ada satu bentuk kegiatan khusus untuk mahasiswa baru atau Maba di kampus kita. PKPT (Pengenalan Kegiatan Perguruan Tinggi) biasa kita menyebutnya. Suatau bentuk kegiatan yang wajib dilaksanakan di awal ketika Maba masuk ke kampus/ (Perguruan Tinggi). Tujuan utama dari diadakanya kegiatan ini adalah mereka dapat langsung menerima kesan tentang dunia mahasiswa, mendapatkan pemahaman tentang nilai-nilai tentang kehidupan dan seluk beluk kampus, dan sosialisasi tentang penjelasan akademik dan non akademik yang berhubungan dengan kegiatan perkuliahan..
Ada sebuah realitas yang sudah biasa terjadi dan dilaksanakan turun temurun selama kegaitan PKPT . Terkecuali sosialisasi pengenalan mengenai kehidupan kampus, ada kegiatan yang sama sekali tidak berhubungannya sama sekali dengan PKPT. Disana masih kita jumpai aksi-aksi penggojlogan dan perpeloncoan yang dilakukan oleh Senior (Panitia) kepada Yunior (Maba) yang merupakan budaya feodal, dimana yang lebih superior menginginkan respek dari yang inferior. Selain itu, ada bentuk pemaksaan yang dilakukan oleh panitia PKPT ketika Maba diharuskan membawa perlatan, perlengkapan, dan pernak-pernik yang dirasa terlalu aneh, sulit didapatkan serta tidak jelas kegunaanya. Kemungkinan tugas tersebut adalah merupakan sebentuk pola agar Maba bisa disiplin, mandiri dan bisa menyelesaikan setiap persoalannya sendiri atau kita bisa menyebutnya sebuah Problem Solving untuk Maba.

3 comments