Pemilu 2009 = GAGAL???
Aq gak tau menahu soal statistik terbaru, penilaianqu ini semata dari observasi di sekitarqu
Bayangkan, dari pihak KPU pun seakan memang tidak atau belum mempersiapkan ini dengan benar, masa dengan enaknya bilang baru bisa menjamin bahwa usrat suara semuanya selesai dan komplit pada H-1?? Yang bener aja, ini kan acara nasional, masa perencanaannya gak mateng sama sekali.. Kisruh kesalahan cetak maupun kesalahan yang lain yang terdapat pada surat suara yang telah disebarkan ke banyak wilayah bukanlah hanya menjadi suatu kesalahan teknis, tapi lebih kepada ketidaksiapan KPU untuk menyelenggarakan PEMILU kali ini. Bayangkan, masa kampanye yang begitu panjang, malah banyak mereka gunakan untuk jalan2 ke luar negeri dengan dalih studi banding… bukannya menyiapkan segala sesuatu dengan perencanaan yang matang.
Soal Surat Suara bukanlah satu2nya kendala besar dalam hal ini, ketidakpastian DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang terjadi di banyak daerah kupikir bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Ketidakvalidan KPU dalam menyusun data pemilih sehingga banyak terjadi pemilih ganda ataupun pemilih fiktif. Masa di suatu daerah, nama beberapa narapidana terhukum mati nasional masih saja tercantum sebagai pemilih?? Yang bener aja!!!
Soal persiapan yang gak terkoordinasi dengan baik, bukan hanya menhadi masalah satu2nya. Kukira sistem Pemilu kali ini sangat membingungkan dan menguras biaya. Membingungkan dalam hal sistem yang aneh, ketika qta harus memilih satu diantara 10 caleg dari 44 partai. Artinya, qta harus mengetahui dan mengerti visi misi dari 10 x 44 = 440 caleg.. Bisakah? Tentu saja qta tak bisa semena2 memilih suatu caleg hanya karena qta melihat posternya (klo yang bikin poster), atau yang datang ke kampung qta dengan mengadakan pengasapan DBD.. Tapi sebagai pemilih, qta SANGAT BERHAK mengetahui SEMUA caleg yang ada. Sebelum KPU (atau entah lembaga mana yang bikin sistem BODOH semacam ini) mengesahkan sistem ini, apakah mereka yakin mampu untuk memberikan HAK kami?? Bahwa Pemilu bukanlah ajang “tebar pesona” lewat poster, pamflet dan banner besar2.. melainkan sebuah sistem fair yang memberikan informasi yang lengkap dan cukup mengenai SETIAP CALEG?
Soal 440 Caleg itu pun masih mengenai caleg DPRD, gimana dengan DPD dan DPR? Berapa banyak yang harus kami hapal dan benar2 teliti menyeleksi dan memilah caleg yang benar? ]
Dan perpindahan dari COBLOS menjadi CONTRENG, jelas adalah sebuah perubahan besar2an bagi INDONESIA.. yang tak bis dirubah secepat itu, tapi KPU (lagi2), gagal mengakomodasi itu. Masih banyak daerah yang (sesuai yang kulihat di TV), kebingungan dengan sistem baru ini. Walopun kemudian, dengan mencoblos itupun masih dianggap sah, tapi tetap saja masalah ini tak bisa dianggap remeh. Ketidaksiapan panitia, dalam hal ini KPU, dalam menyampaikan informasikan dana mengconduct suatu acara, bisa memastikan bahwa acara itu akan berjalan dengan amburadul atau malah GAGAL
Ini masih soal membingungkan, belum lagi soal penggelontoran dana besar2an di saat PEMILU ini, yang aq yakin akan makin membuat bangsa ini terpuruk. Karena siapa lagi yang akan membayar hutang para Celeg dan Capres ketika mereka menggalang modal Pemilu klo bukannya rakyatnya sendiri, dengan nama lain.. qta.. setiap penghuni Indonesia Raya ini.
Setiap Caleg saja bisa menghabiskan rumah dan ratusan juta, bagaimana dengan capres? Trilyunan… Dan mereka tentunya tak ingin rugi. Prinsip berdagang adalah harus balik modal, dan klo bisa untung gedhe2an. Tahu sendiri kan berapa sih gaji anggota legislatif ataupun Presiden? Aq yakin dalam waktu lima tahun, modal mereka gak akan kembali. Dan modal itu baru bisa kembali, untung malah, bila mereka membuat proyek yang bisa menggelembungan perut dan rumah mereka dengan ATAS NAMA BANGSA, ATAS NAMA RAKYAT. Yang entah itu artinya menjual aset2 qta ke luar negeri lagi, atau mengimpor beras dan membuat petani terpuruk, atau sistem buruh yang lebih menekik leher mereka dengan kenaikan harga dan penurunan apresiasi kerja. We’ll see
Pemilu ini pun kemungkinan besar akan gagal, mengingat dari awal, penyalahgunaan kekuasaan untuk melakukan kampanye dan juga penyelewengan peraturan Pemilu masih saja tidak digubris. Keberadaan Panwaslu hanyalah semacam simbol bisu untuk pengawasan yang angot2an.
Kukira, siapapun yang akan menang pada Pemilu kali ini.. qta, sebagai warga negara, akan tetap kalah. Aakan tetap diinjak oleh birokrasi dan kekuasaan. Jadi, untuk apa berpartisispasi?
Marhaenis Bergerak !; Antara Penguatan Akar Rumput dan Strategi Politiknya di Era Neoliberalisme
oleh: Budiman Sudjatmiko
‘Di sini, di antara buruh dan tani, kami generasi yang kalah menemukan kebenaran dan kekuatannya kembali. Inilah satu-satunya rumah kami…’ —Emmanuel F. Lacaba—
Pengantar
Indonesia sekarang merupakan satu masyarakat kapitalis yang bersifat setengah jajahan. Bilur-bilur luka sisa feodalisme pun masih di sekujur tubuhnya. Kapitalisme neoliberal telah menderas, terutama di era akhir kekuasaan Orde Baru. Ia lantas dilanjut dengan revolusi damai di era demokrasi liberal sekarang. Ada proses up and down dalam arus putaran sistem perekonomian di setiap kurunnya. Tiap-tiap terjadi penurunan, senantiasa disertai kebangkitan. Asia mengalami kebangkitan ekonomi kembali setelah diringkus oleh krisis pada tahun 1997. Meski bersifat parsial, tanda-tanda pemulihan menyeruak kembali. Sepanjang ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh dan menyerap ekspor, ekonomi Asia berpeluang untuk mengekspor ‘surplus’ komoditi yang tak terbeli oleh rakyat sendiri. Proses yang sangat ditolong oleh devaluasi mata uang inilah yang membuat ekspor mereka lebih murah ketimbang sebelumnya. Kapitalisme sudah merupakan motor perubahan sejarah yang ‘revolusioner’ dalam hamparan global.
Perubahan ini sekarang ditunjukkan oleh fenomena globalisasi. Bahkan seorang ahli Sosiologi Hubungan Internasional dari Inggris, Martin Shaw, menunjuk proses ini sebagi revolusi global. Ini adalah satu perubahan yang melibatkan bukan sekedar proses di bidang ekspansi-ekspansi hubungan pasar, komodifikasi di sembarang tempat dan komunikasi yang merangkum seantero dunia, melainkan juga memadu dengan tranformasi di bidang kultural dan transisi perimbangan kekuatan politik-militer internasional (Shaw, Martin, 2000,:’Theory of the Global State: Globality as an Unfinished Revolution’).
Dihadapkan pada semua itu, bakal tunggang-langgangkah kaum Marhaenis dalam menyongsongnya? Atau, apa yang bisa dilakukan? Batu-batu karang macam apa yang akan menghadang Gerakan Marhaenis?
Pemilu 2009
Pemilu sebentar lagi.. walopun penuh dengan pro dan kontra, juga banyak hal2 yang mencurigakan terjadi, ada baiknya bila kita sebagai pemuda harapan bangsa yang masih peduli dan cinta pada tanah air untuk terus mengiringi perkembangan dan mengawal proses demokrasi di Indonesia.
Mari kita terus meng update segala berita, informasi dan teknis2 Pemilu dari beberapa sumber…
http://pemiluindonesia2009.blogspot.com/
Ini adalah blog gratisan yang berisi cukup banyak informasi terkini mengenai capres dan partai2 yang sedang kampanye serta kegiatan2 mereka
http://www.indonesiamatters.com/t/pemilu-2009/
Link yang satu ini berbasis bahasa inggris, berisi tentang banyak hal, tapi juga terus mengupdate berita tentang Pemilu 2009
http://www.kpu.go.id/
Walopun kinerjanya masih dipertanyakan, tidak ada salahnya kita menilik informasi terkini yang disajikan oleh lembaga yang konon independen ini
http://www.calegindonesia.com/
Nah, bagi kalian yang pengen tau soal caleg2 dari tempat kalian silahkan klik link ini
GMNI, Kegagalan Merumuskan Ideologi
Oleh: Ichwan Ar
Berbicara mengenai Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), diskursus yang muncul tentang heroisme semu, konflik organisasi, kegelisahan dan fragmen mimpi politik dari kelompok yang merepresentasikan diri sebagai nasionalis muda. Ironisnya, napas yang sama masih mengemuka pada saat organisasi mahasiswa ini genap berusia 48 tahun pada 23 Maret ini. Persoalan yang muncul masih berkutat pada konflik organisasi dan keterpenjaraan dalam romantisme sejarah.
Konflik semakin mengental dalam bentuk perpecahan. Pada tingkat presidium, kepengurusan terbelah antara presidium versi Kongres Kupang 1999 dan Kongres Luar Biasa di Semarang 2000.
Pada tingkat implementasi gerakan, yang lebih banyak mengemuka adalah model aksi di jalanan. Sebuah pilihan yang lebih banyak didasari pada euforia politik pascareformasi, mengikuti tren hiruk pikuk aksi mahasiswa dan terlihat sekadar mengisi kebutuhan aktivitas organisasi.
Dengan demikian, tidak mengherankan jika yang kemudian muncul adalah tipologi gerakan politik semu, miskin gagasan dan terjebak pada karakter aktifisme belaka.
Keterpenjaraan dalam romantisme masa lalu mengental dalam pola kaderisasi dan struktur gerakan yang tidak bergeser dari simbol-simbol kebesaran di masa silam. Hal itu terlihat dari model rekrutmen dan pendidikan kader yang lebih mempertimbangkan kuantitas daripada kualitas.
Tidak aneh, jika kemudian para kader lebih mengedepankan hal-hal yang berbau seremonial dan pilihan aktivitas yang menawarkan “gebyar” serta ilusi tentang gerakan politik mahasiswa. Hal-hal yang menyangkut ruang pergulatan pemikiran nyaris tidak tersentuh. Pada akhirnya, produk yang dihasilkan adalah kader-kader karbitan yang lemah secara intelektual, miskin pemahaman ideologi dan cenderung bersikap komprador pada penguasa.
Refleksi Total
Meski demikian, terasa lebih memprihatinkan melihat situasi itu tidak juga diimbangi dengan kemunculan kesadaran politik dari para aktivisnya untuk merefleksi problem mendasar yang diidap organisasi.
Hal lainnya adalah kesiapan menerima kritik. Jika kesiapan itu tidak ada, refleksi tersebut justru berpotensi menumbuhkan konflik baru bagi kelompok yang tidak sepaham. Pilihan itu juga cenderung tidak populer serta jauh dari ilusi kekuasaan politik. Dengan demikian, refleksi menjadi pilihan yang tidak menarik.
Edisi Video Bung Karno
Iseng-iseng liat Youtube dan coba melihat beberapa video menarik tentang pidato2 Bung Karno
1. Proklamasi
2. Bung Karno bicara Supersemar
3. Soekarno: Pembebasan Irian Barat
tinggalkan komentar