GMNI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Fidel Castro dan Soekarno

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on September 18, 2008

Oleh : Dr Haridadi Sudjono (Mantan Dubes RI untuk Kuba)

Castro mengatakan dengan tegas, dirinya adalah murid Bung Karno. Itu dikemukakannya sendiri kepada Bung Karno,ketika dua tokoh Gerakan Nonblok ini bertemu, dan kepada Adam Malik ketika almarhum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI. Secara terbuka Castro menegaskan bahwa dirinya telah mengadopsi ajaran-ajaran Presiden RI pertama itu untuk dijadikan acuan guna memimpin negaranya. Ajaran yang mana?

Tentu, bukan Pancasila, nasakom, atau marhaenisme, melainkan trisakti dan resopim. Castro yang dikenal sebagai tukang ekspor revolusi ini ternyata juga telah mengimpor teori revolusi ajaran Bung Karno. Selama penulis menduduki pos sebagai Dubes RI (1999–2003) di negeri yang luasnya tak lebih dari Pulau Jawa ini, tampak bahwa pemerintahan di bawah Fidel Castro konsisten mempraktikkan dua ajaran tersebut yang tentu saja sudah diolah menjadi trisakti dan resopim ala Kuba.

Sebagaimana kita ketahui,ajaran trisakti Bung Karno ini mencakup, pertama, berdaulat dalam politik; kedua,berdiri di atas kaki sendiri (berdikari atau mandiri) di bidang ekonomi; ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. Adapun resopim yang merupakan judul pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1961 adalah merupakan akronim dari “revolusi, sosialisme Indonesia, dan pimpinan nasional”.

Sosialisme Kuba yang secara filosofis berbeda dengan Indonesia

Merdekakan Pikiranmu

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on September 3, 2008

How do you rise up against a system that appears to provide you with your home and car, food and clothes, electricity and health care….How do you muster the courage to step out of line and challenge concepts you and your neighbors have always accepted as gospel, even when you suspect that the system is ready to self-destruct?(John Perkins, 2004, Confessions of an Economic Hit Man, San Francisco, Berrett-Koehler Publishers Inc, hal. 217)

Tanggal 17 Agustus kemarin kita Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan kita yang ke-63. Selain pemandangan umum tahunan yang kita lihat di mana-mana, di mana hampir seluruh anggota masyarakat ikut berpartisipasi memeriahkan kemerdekaan ini dengan berbagai macam cara, ada pula sebagian orang yang kembali menanyakan makna (halah… makna…) Kemerdekaan Indonesia ini. Pertanyaan besar yang hampir setiap tahunnya tercetus baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan dari beberapa orang masih saja selalu sama. “Apakah benar kita sudah merdeka?”
Makna kemerdekaan bagi setiap orang tentu berbeda. Merdeka berarti bebas, bebas dari penjajahan, penghambaan, perbudakan, dll. Makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia sendiri adalah telah terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan yang terjadi lebih dari 350 tahun. Jika kita flash back pada masa sebelum kemerdekaan, keadaan Indonesia sungguh sangat menyedihkan. Penuh penderitaan dan kesengsaraan. Perjuangan pun tiada hentinya dilakukan oleh setiap warga Indonedia, tak terkecuali. Banyak pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Rasa nasionalisme dan patriotisme selalu ditanamkan dalam-dalam disetiap sanubari warga Indonesia. Dan kini Indonesia telah merdeka, tetapi perjuangannya masih belum selesai.

Kita masih terjajah, Bung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.