GMNI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Marhaenis Bergerak !; Antara Penguatan Akar Rumput dan Strategi Politiknya di Era Neoliberalisme

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Februari 12, 2009

oleh: Budiman Sudjatmiko

‘Di sini, di antara buruh dan tani, kami generasi yang kalah menemukan kebenaran dan kekuatannya kembali. Inilah satu-satunya rumah kami…’ —Emmanuel F. Lacaba—

Pengantar

Indonesia sekarang merupakan satu masyarakat kapitalis yang bersifat setengah jajahan. Bilur-bilur luka sisa feodalisme pun masih di sekujur tubuhnya. Kapitalisme neoliberal telah menderas, terutama di era akhir kekuasaan Orde Baru. Ia lantas dilanjut dengan revolusi damai di era demokrasi liberal sekarang. Ada proses up and down dalam arus putaran sistem perekonomian di setiap kurunnya. Tiap-tiap terjadi penurunan, senantiasa disertai kebangkitan. Asia mengalami kebangkitan ekonomi kembali setelah diringkus oleh krisis pada tahun 1997. Meski bersifat parsial, tanda-tanda pemulihan menyeruak kembali. Sepanjang ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh dan menyerap ekspor, ekonomi Asia berpeluang untuk mengekspor ‘surplus’ komoditi yang tak terbeli oleh rakyat sendiri. Proses yang sangat ditolong oleh devaluasi mata uang inilah yang membuat ekspor mereka lebih murah ketimbang sebelumnya. Kapitalisme sudah merupakan motor perubahan sejarah yang ‘revolusioner’ dalam hamparan global.

Perubahan ini sekarang ditunjukkan oleh fenomena globalisasi. Bahkan seorang ahli Sosiologi Hubungan Internasional dari Inggris, Martin Shaw, menunjuk proses ini sebagi revolusi global. Ini adalah satu perubahan yang melibatkan bukan sekedar proses di bidang ekspansi-ekspansi hubungan pasar, komodifikasi di sembarang tempat dan komunikasi yang merangkum seantero dunia, melainkan juga memadu dengan tranformasi di bidang kultural dan transisi perimbangan kekuatan politik-militer internasional (Shaw, Martin, 2000,:’Theory of the Global State: Globality as an Unfinished Revolution’).

Dihadapkan pada semua itu, bakal tunggang-langgangkah kaum Marhaenis dalam menyongsongnya? Atau, apa yang bisa dilakukan? Batu-batu karang macam apa yang akan menghadang Gerakan Marhaenis?

Inilah batu-batu karang yang mesti ditaklukan itu

Solusi Sosialis Untuk Masalah Israel-Palestina (part 3)

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Januari 15, 2009

By Ted Sprague
Friday, 09 January 2009

Yang dibutuhkan adalah metode aksi massa berbasiskan kelas pekerja

Intifada (yang berarti pemberontakan di dalam bahasa Arab) mengacu pada pemberontakan popular akar-rumput yang dilakukan oleh rakyat Palestian pada tahun 1987-1993 (Intifada pertama). Metode-metode aksi massa akar-rumput yang digunakan saat itu (demonstrasi massa, mogok, aksi-aksi perlawanan massa, boikot, dsb) adalah metode-metode yang harus dikembangkan di dalam perjuangan pembebasan Palestina. Pada saat itu para pemuda Palestina secara masif melawan pasukan Israel bukan dengan metode-metode terorisme individual yang digunakan oleh PLO pada saat itu, tetapi justru dengan independen melakukan perlawanan aksi massa. Intifada pertama ini berlangsung spontan dan secara akar rumput, dan ia terjadi di luar kepemimpinan PLO yang tidak menyangka radikalisasi massa. Puluhan tahun mereka melakukan metode terorisme individual yang mengecilkan peran massa, terkejutlah mereka ketika menyaksikan gerakan massa yang spontan dan radikal yang justru menggetarkan lutut sang imperialis Israel lebih daripada getaran bom-bom mereka.

Tidak seperti yang selalu digambarkan oleh media bahwa rakyat Palestina hanya terdiri dari kaum teroris, kriminal, dan pengangguran (elemen lumpen), Palestina memiliki kelas pekerja industri yang jumlahnya cukup besar.


* Data tenaga kerja Palestina diambil dari Biro Pusat Statistik Palestina, Survey Tenaga Kerja Q1 2008

** Angka di dalam kurung adalah perbandingan dengan presentase tenaga kerja Indonesia. Data tenaga kerja Indonesia diambil dari Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, Februari 2008

semangat solidaritas revolusioner untuk perjuangan rakyat Palestina

Solusi Sosialis Untuk Masalah Israel-Palestina (part 2)

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Januari 11, 2009

Fundamentalisme – Kenapa Kita Tidak Boleh Mendukung Hamas

Walaupun kita mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Palestina dalam melawan imperialisme dan Zionisme, kita tidak boleh jatuh ke dalam oportunisme mendukung Hamas. Kamerad-kamerad Iran dari kelompok sosialis Militant memaparkan posisi ini dengan sangat baik di dalam statemen solidaritasnya kepada rakyat Gaza (Zionism declares “all-out war” on Gaza):

“Hamas dilahirkan dari kebutuhan yang tidak terelakkan dari rakyat Palestina untuk melawan okupasi Zionis dan penyangkalan hak-hak nasional yang fundamental dan hak asasi manusia setelah Fatah menyerah kepada imperialisme. (Ini juga benar untuk Jihad Islam dan kelompok-kelompok fundamentalis lainnya.)”

“Dari kebutuhan ini, sebuah alternatif lahir. Rakyat Palestina sangatlah membutuhkan seseorang untuk melindungi mereka dari serangan-serangan Israel ketika kaum birokrat dan pejabat-pejabat Fatah dan “Otoritas Palestina” (baca PLO) yang korup sibuk membuat kompromi-kompromi dengan kaum imperialis dan Zionis di Madrid, Oslo, Camp David, Wye River, Sharm al-Sheikh, dan Anapolis.”

“Akan tetapi, gerakan alternatif ini – dan kepemimpinannya – adalah berdasarkan ideologi Islam reaksioner yang selama puluhan tahun telah memainkan peran sebagai pelindung terbaik bagi imperialisme dalam melawan perkembangan gerakan Marxis revolusioner di dalam massa. Ini adalah ideologi yang didanai dan dipromosikan oleh imperialisme Amerika – di bawah pemerintahan Demokrat dari Jimmy Carter – di Afghanistan enam bulan sebelum invasi Soviet! Ini adalah ideologi yang menenggelamkan Revolusi Iran ke lautan darah dan mencegah rakyat pekerja Iran dari perebutan kekuasaan.”

Hamas menjual strategi nasionalis bangkrut

Solusi Sosialis Untuk Masalah Israel-Palestina (part 1)

Posted in pergerakan mahasiswa by gmnium on Januari 11, 2009

By Ted Sprague
Friday, 09 January 2009

Minggu lalu puluhan ribu tentara Israel memasuki daerah Gaza. Ini dilakukan seminggu setelah membom Gaza dari ‘kejauhan’ dan menyebabkan kematian lebih dari 400 rakyat Palestina, termasuk wanita dan anak-anak. Invasi ini merupakan satu kelanjutan dari kebijakan imperialisme Israel yang disamarkan dengan retorika-retorika “melindungi rakyat Israel dari rasa takut”. Baru saja dua tahun yang lalu pasukan Israel menyerang Lebanon dan membunuhi lebih dari seribu rakyat Lebanon tanpa pandang bulu. Sekarang, giliran rakyat Palestina di daerah Gaza yang akan menjadi korban dari kegilaan imperialisme.

Semua ini terjadi seiring dengan krisis finansial terbesar di dalam sejarah kapitalisme. Krisis ekonomi ini telah menemukan ekspresinya di dalam arena politik dunia, kita bisa saksikan di hampir semua negara terjadi krisis politik yang paling akut. Di Timur Tengah, krisis politik ini diekspresikan dengan sangat brutal dalam bentuk bom-bom yang berjatuhan dan kebijakan imperialisme yang semakin hari semakin menekan rakyat.

Kemunafikan Gencatan Senjata Israel dan Pemerintahan-Pemerintahan Dunia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.